Diduga Mengutamakan Lobby Menyingkirkan Yang Berkualitas Pengangkatan Kepsek di Kota Bekasi Tidak Sesuai Permendiknas Th 2010

Share it:
Bekasi,(MediaTOR) - Di Kota Bekasi terjadi dua kali pengangkatan guru menjadi kepala sekolah SMAN yang tidak sesuai dengan Permendiknas 28 tahun 2010 tentang pengangkatan guru sebagai kepala sekolah. Pada Oktober 2015 lalu, Satori MPd, guru di SMAN 11 Kota Bekasi dipromosikan menjadi Kepala SMAN 15 Kota Bekasi.
         Satari belum memenuhi kriteria untuk menjadi kepala sekolah, diduga hanya karena ada kedekatannya dengan salah satu  Top Leader Kota Bekasi. Sehingga, dia mampu menyingkirkan mereka  yang  telah memenuhi persyaratan secara kualitatif, yakni telah berpengalaman wakil kepala sekolah,  telah mengikuti diklat dan magang calon kepsek. Begitu juga pengangkatan Reni Yosefa MSi guru mata pelajaran Matematika dan sebagai staff kurikulum di SMAN 8 Kota Bekasi. Reni yang minim pengalaman, namun ditetapkan menjadi Kepala SMAN 18 Bekasi, pada Selasa (26/4).  Hal itu sangat bertentangan dengan aturan yang dibuat kemendikbud, sebab dia belum pernah menjadi wakil kepala sekolah, apalagi magang calon kepsek atau mengikuti diklat, apalagi kriterialainnya. Unsur lobby dan kedekatan dengan beberapa pejabat Disdik Kota Bekasi sehingga mampu menyingkirkan pesaingnya, khususnya yang ada di SMAN 8 Kota Bekasi.
        Menurut sumber MediaTOR, Kabid Dikmen, Ujang Tedy dan Sekretaris Disdik, Ali Fauzie adalah yang sangat berperan memuluskan proses promosi Reni Yosefa menjadi kepala sekolah. MediaTOR yang berupaya menemui  kedua pejabat itu,  untuk dikorfirmasi namun sangat sulit ditemui  bahkan  dihubungi melalui telepon selulernya tidak pernah dijawab.
        Keterangan yang diperoleh MediaTOR, ada salah satu wakil kepala SMAN 8 yang telah memenuhi kriteria sesuai aturan yang tadinya akan dipromosikan menjadi kepala sekolah. Bahkan  Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Kota Bekasi Drs Mawar MPd yang juga sebagai Kepala SMAN 1 (Sekolah Model) Kota Bekasi disebutkan telah memperkenalkannya kepada Walikota Bekasi bahwa dia telah memenuhi persyaratan untuk dipromosikan menjadi kepala sekolah. Rupanya yang terjadi, lebih mengutamakan lobby dan pendekatan  “humanis yang harmonis” mampu menyingkirkan mereka yang sesuai kriteria Permendiknas 28 tahun 2010.
     “Itulah keunikan kebijakan di Kota Bekasi, yang baik dan berkualitas dan telah teruji bisa tersingkirkan. Akibat faktor lobby dan pendekatan humanis dan harmonis itu,” kata Didit Susilo selaku pemerhati pendidikan di Kota Bekasi.
      Kepala Inspektorat Kota Bekasi, Cucu Syamsudin merasa heran atas kebijakan pengangkatan kepala sekolah yang belum memenuhi persyaratan sebagaimana diatur Permendiknas 28/2010. 
       Kalau pelayanan pemerintahan mau baik dan benar, seharusnya mengangkat orang yang baik dan benar sesuai aturan, katanya.(Arifin Lbs/DM)

Share it:

Pendidikan

Post A Comment:

0 comments: