Pencemaran Udara Diduga Dari Cerobong PT BKP Tambah Derita Warga Kaliabang Tengah pada Kemarau Panjang Ini

Share it:

Jakarta, (MediaTOR Online) - Kendati peristiwa sudah lama berlangsung atau berulang-ulang hingga memicu kritik dari DPRD Kota Bekasi terkait lemahnya pengawasan serta penindakan dari instansi terkait soal lingkungan hidup, pihak pabrik PT Bina Karya Prima (BKP)  yang diduga melakukan pencemaran udara tetap mengabaikan keluh-kesah warga sekitar.

Kemarau panjang dan terik matahari atau perubahan musim yang tengah terjadi sekarang ini juga membuat kualitas udara di kawasan Kaliabang Tengah, Bekasi Utara/Medan Satria, Kota Bekasi, semakin bertambah buruk. 

Cerobong pabrik PT BKP yang menghamburkan asap hitam.

Aktivitas pabrik PT BKP sesungguhnya sudah lama diduga memicu pencemaran udara berupa debu dan asap hitam pekat diduga dari cerobong pembakaran. Warga di lingkungan sekitar juga sudah berulang kali melaporkan lantai dan bangunan tertutup lapisan debu hitam yang muncul terutama pada pagi hari.

 Asap hitam pekat tersebut diduga berasal dari cerobong pabrik PT BKP yang menggunakan proses pembakaran industri di tengah permukiman padat penduduk tersebut. Masyarakat mendesak pihak berwenang dan pemerintah daerah untuk menindak tegas pabrik yang melanggar aturan lingkungan, bahkan ada yang meminta agar operasional pabrik dievaluasi atau direlokasi. Namun tidak kunjung ada tindak lanjutnya dari pihak yang berwenang. 

“Kami sudah bosan mempersoalkan pencemaran udara dari cerobong pabrik ini. Tidak ada tanggapan baik dari pemilik pabrik maupun dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi,” ujar Supanto, Jumat (14/8/2026). Dia mengaku agak kesal melihat pihak berwenang yang mengabaikan keluhan mereka. 

Masih menurut keterangan warga sekitar maupun karyawan PT BKP, pabrik tersebut diduga penggunaan batu bara kualitas rendah. “Penggunaan batu bara kualitas rendah tersebut bisa jadi penyebabnya muncul asap hitam,” tutur Ismail, warga lainnya.

Pengamat hukum Tanlih Barimbing mengatakan, berita mengenai asap hitam pekat dari cerobong pabrik umumnya muncul ke permukaan berdasarkan laporan warga sekitar yang terdampak langsung oleh jelaga dan polusi udara di sekitar hiniannya.

“Media masa baik media cetak, elektronik, maupun platform digital memainkan peran penting dalam mempublikasikan fenomena ini sebagai bentuk fungsi pengawasan sosial,” kata Tanlih kepada wartawan, Kamis (13/8/2026).

Tanlih melanjutkan, keberadaan jelaga hitam yang membumbung tinggi menandakan adanya pembakaran tidak sempurna pada sistem boiler berpotensi menimbulkan dampak terhadap masyarakat di sekitarnya.

“Dapat memicu gangguan saluran pernapasan akut (ISPA), iritasi mata serta memperburuk kondisi penderita asma. Endapan abu dan debu karbon sering kali mengotori rumah warga, fasilitas umum, serta sumber air terbuka yang berdampak pada penurunan kualitas hidup masyarakat setempat,” ujarnya.

Sampai saat ini PT BKP yang memproduksi minyak goreng, margarin dan sabun mandi batangan, masih terlihat asap hitam membumbung tinggi. Kendati selama ini warga sekitar kerap memprotes aktivitas PT BKP yang diduga telah merugikan kesehatan masyarakat sekitar serta mendapat sorotan dari sejumlah media massa nasional maupun lokal, namun belum ada tindakan nyata dari PT BKP sendiri.

Pihak PT BKP yang berusaha dimintai tanggapan perihal keluhan warga sekitar pabriknya, tidak bersedia memberi penjelasan. Keengganan pihak perusahaan merespon upaya klarifikasi wartawan sejalan dengan ketidakmauan instansi terkait memberikan penjelasan ikhwal dugaan pencemaran udara tersebut. (Pas)

Share it:

Lingkungan Hidup

Post A Comment:

0 comments: