Sukabumi,(MediaTOR Online) - Keterbatasan anggaran menjadi persoalan pelik pemerintah Kabupaten Sukabumi, mengejar percepatan Pembangunan. Tidak sedikit praktisi dan masyarakat mengkritisi lambannya kinerja birokrat memberikan pelayanan, terutama di sektor pembangunan infrastruktur jalan dan pendidikan, sebagaimana diberitakan media ini sebelumnya.
Tingkat kepuasan masyarakat setahun kepemimpinan Asep Japar dinilai beberapa pihak masih sangat rendah Meski belum ada data analisis tingkat kepuasan masyarakat menyoal kinerja Bupati Sukabumi. Tentu persoalan ini seyogyanya jadi perhatian serius.
Media ini mencatat mahasiswa melakukan kritisi turun ke jalan dan mendatangi gedung DPRD menyampaikan aspirasi dan menuntut Bupati serius dan transparan dalam pengelolaan anggaran. Mahaiswa menyoalkan anggaran rapat, jalan, lingkungan, buruh dan pendidikan. Dimedia sosial masalah infrastruktur jalan rusak jadi ‘trending topic’ , menghiasi kanal tiktok, YouTube, dan facebook. Sebut saja salah satunya kanal Hendri Hasibuan. Dalam interaksi kanal tersebut menyebutkan Asep Japar dengan istilah ‘Ngopi wae’, belum diketahui pasti defenisi istilah ngopi yang dimaksud, apakah mengambarkan prilaku atau kinerja.
Dalam beberapa pertemuan Asep Japar menyampaikan permohonan
maaf atas capaian kinerja beliau kurun waktu satu tahun. Asjap, panggilan akrab
Sang Bupati, tidak menepis apa yang menjadi keluhan masyarakat. Namun perlu
dicatat persoalan masalah Pendidikan kini juga mulai menuai sorotan berbagai
kalangan masyarakat, praktisi, dan LSM. Dikarenakan kurang tanggap menyiapkan
sarana prasarana pendukung mengatasi persoalan Pendidikan.
Persoalan ini timbul, akibat masih banyak gedung sekolah
yang kondisinya memprihatinkan. Belum dilakukan perbaikan, bahkan kondisi
gedung sudah berusia cukup tua dan lapuk. Tapi masih digunakan sebagai sarana
belajar mengajar, bahkan rawan roboh, dan dapat menimbulkan korban.
Ade, Ketua DPC LSM Laskar Komando Rakyat, kepada awak media menyampaikan, telah banyak terjadi sekolah sekolah yang tidak layak masih dipakai dan roboh. “siswa belajar, bangunan mau ambruk, coba anda bayangkan.” ketusnya..
Dinas Pendidikan lamban melakukan antisipasi, setelah
terjadi musibah baru berpikir cari dana memperbaiki bagunan roboh, “seharusnya,
mereka sudah memiliki data menyiapkan anggaran untuk tahun ke depan, bukan cuma
menyiapkan anggaran untuk biaya rapat, seremonial dan bintek. Sedang siswa dan
orangtua was was anaknya di sekolah nanti bagaimana. Contoh kasus gedung SMPN 3
Pabuaran kemarin ambruk. Bagusnya tidak ada korban, coba kalau ada korban
miriskan.” tandasnya lagi.
Persoalannya, kini berapa serius dinas pendidikan melakukan
perbaikan gedung sekolah, jangan seperti Asjap alasan minim anggaran, bisa
tuntas tidak tahun ini sekolah yang rusak diperbaiki. Sehingga layak dan
memberi rasa aman siswa.
APBD 2026 Rp.4,1 triliun, hanya dikisaran 11-12% diposkan ke
dinas pendidikan sebesar Rp. 447 miliar. Tak sedikit penggunaan anggaran digunakan untuk kegiatan rapat, makan minum,
bintek, dan lainnya.
Dari catatan media
ini dan penelusuran berbagai sumber sedikitnya 46,6% gedung sekolah yang
mengalami kerusakan dari total 8.415 ruang kelas 3.921 kondisi rusak.
Lantas apakah mampu dinas pendidikan menuntaskan perbaikan
sekolah yang rusak, dengan anggaran yang tersedia ?. Selain itu program dinas
pendidikan saat ini lebih fokus meningkatkan SDM tenaga pengajar dan
Sertifikasi Guru. “kalau anggaran tidak
cukup, trus bukan prioritas, dari mana uangnya. Malah ada pos anggaran 400 juta
hibah kepada badan dan Lembaga. Aneh lagi sekolahan pada rusak kok bisa ya
mengeluarkan dana hibah, ini harus diawasi, ada kepentingan elite tidak, kan
ada Lembaga kompeten urus soal hibah bukan Dinas Pendidikan,” kata ade dengan
nada tinggi.
Kaleidoskop gedung sekolah Lokasi Terdampak Parah yang
dihimpun awak media yakni, SDN Nagrak Cikelat Kec. Cisolok, Atap ruang kelas
ambruk akibat keropos, genteng hilang, dan kayu rangka atap (kaso/reng) sudah
lapuk karena bangunan berusia cukup lama (Akibatnya ruang guru terpaksa
dialihfungsikan menjadi ruang kelas untuk siswa. SDN Cikahuripan (Cisolok):
Porak-poranda dan dipenuhi lumpur akibat banjir bandang. Dan MTs Miftahul
Barokah (Kampung Gempol): Rusak akibat pergeseran tanah, siswa sempat melakukan
kegiatan belajar mengajar menggunakan tenda.
Terkini peristiwa ambruknya tiga ruang kelas di SMPN 3
Ciwalat Kec. Pabuaran. menyisakan kerangka kayu patah dan tembok retak.
Peristiwa ini terjadi tepatnya, Senin, (30/3) lalu.
Awak media coba meminta konfirmasi Kadis Pendidikan Deden
Sumpena, namun karena kesibukannya, Kadis dalam waktu dekat akan memberikan
klarifikasinya, melalui telepon selular menyampaikan, “maaf bang kita saling
komunikasi, saya besok ada tugas lapangan kayaknya padat sampai Kamis, kalau
ada waktu kita berkabar Jum’at ya.” Katanya. (HH)


.jpeg)
.jpeg)


Post A Comment:
0 comments: