Sukabumi,(MediaTOR Online) - Meski perbaikan gedung rusak telah di identifikasi lebih awal, tak lantas akibat buruk dapat pula terhindar. Demikian hal yang terjadi pada peristiwa Ambruknya satu ruang kelas di SDN 1 Batununggul, Kabupaten Sukabumi.
Patut disorot seberapa detail identifikasi dilakukan dinas pendidikan melakukan antisipasi penanggulangan resiko. “Tidak karena faktor lamban proses serapan anggaran atau alam lantas, dianggap sudah bekerja dengan baik” Ungkapan Ade pengiat hukum dan Ketua DPC LSM Laskar Komando Rakyat (LKR), menanggapi Peristiwa ambruknya SDN 1 Batununggul, desa karangmekar, kecamatan Cimanggu. Jum'at (3/4) lalu.
Menurut sumber awak media, SDN 1 Batununggul masuk dalam program prioritas perbaikan tahun 2026. Namun penyelesaian dilakukan secara periodik.
Peristiwa ambruknya atap sekolah itu terjadi karena struktur bangunan yang sudah lapuk. Akibatnya, sebanyak 18 orang siswa kehilangan ruang kelas dan terpaksa belajar di bangunan perpustakaan.
Diketahui dinas pendidikan baru melalukan perbaikan dua ruang kelas yang kondisinya memprihatinkan, sedang satu ruangan yang teridentifikasi dilakukan secara priodik. Rencana itu dilakukan pada tahun anggaran 2026. Mirisnya, belum dilakukan perbaikan, insiden ambruknya atap gedung sekolah SDN 1 Batununggul lebih dahulu terjadi.
Ini menjadi perhatian serius dinas pendidikan menjalankan program, cepat dan tanggap. “ harus 'gercep' dong jangan tunggu roboh, lantas cari alasan, pembenaran. ‘’ kata ade menanggapi lambannya perbaikan dilakukan dinas oendidikka, Senin (13/4) di markas LSM LKR.
Dalam keterangannya, Ade menambahkan, “Sudah berulang peristiwa roboh gedung sekolah jadi perhatian publik. Hendaknya jadi pelajaran, dan antisipatif segera mungkin, Jangan menunggu waktu yang akibatnya buruk. “ kepada awak media.
Anggaran Berjalan sesuai Perencanaan
Sementara Deden Sumpena kepada media ini mengatakan, “Dinas pendidikan pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Saat ini kebijakan dan perkembangan informasi dan inovasi di bidang pendidikan berkembang dengan sangat pesat.” Ungkapnya.
Sehingga program lain tak lantas terabaikan, seperti program kompetensi pendidik dan tenaga pendidikan. “hal yang strategis meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan, ini berimplikasi terhadap peningkatan kualitas peserta didik. Oleh karenanya mengingat efektivitas transfer informasi, dibutuhkan adanya peningkatan kompetensi PTK secara tatap muka. Sehingga dibutuhkan biaya makan minum setiap kegiatan yang diadakan.” Menjawab borosnya biaya untuk kegiatan, rapat, makan minum dan bintek.
Disisi lain, Deden Sumpena menyampaikan . Dinas Pendidikan merupakan salah satu perangkat daerah pengampu SPM. Sebagaimana kita ketahui salah satu fokus SPM Pendidikan adalah meningkatkan kualitas peserta didik melalui berbagai indikator seperti indeks literasi, numerasi, iklim keamanan, kebinekaan, dan lain lain. “Kembali lagi, indikator indikator tersebut bisa dicapai dengan adanya pelatihan kepada PTK.”
Faktor keterbatasan APBD tak tertampik perbaikan kerusakan sekolah, dapat dilakukan secara menyeluruh dalam satu tahun mata anggaran. Deden Sumpena menegaskan terkait kritisi penggiat media sosial, hukum dan LSM menyampaikan, “Khusus untuk bangunan sarana dan prasarana, proses sudah berjalan, ada dua sumber yaitu dari pemerintah pusat dalam bentuk program revitalisasi dan sumber APBD, semua sudah berangkai berdasarkan tingkat kerusakan yang harus segera di intervensi, karena jumlah ruang kelas yang banyak sehingga tentunya disesuaikan berdasarkan kuota dan ketersediaan anggaran.”
Robohnya atap sekolah SDN 1 batununggal, dikarenakan faktor alam seperti titik rawan bencana, dan curah hujan tinggi. Akibatnya gedung sekolah ambruk. “ Anggaran sudah siap, karena iklim, curah hujan tinggi, atap yang sudah termakan usia dan lapuk sehingga penyangga tidak mampu menahan lembab dan genangan air sehingga atapnya ambruk, imbasnya dinding gedung juga ikut roboh“ menampik keterlambatan dinas melakukan antasipasi sekolah roboh, ungkapnya rabu, (15/4). ( Hendri Hasibuan)





Post A Comment:
0 comments: