Oleh : Drs. Antonius Purba
Jakarta,(MediaTOR Online) - Sejak menikah thn 1994, selama hampir 32 thn saya sangat aktif mengikuti adat Batak dari berbagai puak, yitu Toba, Simalungun, dan Karo. Baik adat kematian, adat acara keluarga , terutama adat perkawinan.
Semakin aktif saya di adat, karna istri saya br Napitupulu, di mana sang istri juga mensupport saya untuk tetap tampil dan eksis. Selain saya aktif di adat Batak saya juga kutu buku tentang dalihan na tolu karangan berbagai ahli dan dosen ttg suku Batak. Dan saya sudah sering dituakan atau penasehat dalam kumpulan orang Batak, sehingga sering diskusi dan rapat bila ada acara adat khususnya adat kematian dan adat perkawinan.
Intinya dikatakan para ahli budaya dan seni Batak dikatakan bahwa adat itu bertujuan untuk mengatur tata harmoni hidup suku Barak yang seimbang dan harmonis. Agar kehidupan orang Batak tetap stabil dan eksis, hukum adat Batak itu wajib absolut dilakoni sepanjang masa yg bertumpu pada akar budaya
Dalihan Na Tolu. Hubungan harmoni itu akan kita temukan bila kita pahami, hayati dan harmonis. Bicara dari segi adat Batak tadi tidak ada ditemukan di situ unsur eksploitasi dan hal. Berlebihan atau tidak adil.
Sebab dari segi filosofisnya para leluhur sangat piawai menemukan rumusan adat tersebut dengan adanya unsur saling berganti posisi pada situasi yang berbeda.
Saya selaku boru di keluarga Napitupulu, selaras tuntutan adat saya wajib dan siap tempur melakoninya demi dan untuk memenuhi kebutuhan hula hula saya dari segi adat. Tentu sebaliknya juga saya wajib dilayani boru saya selaras porsinya.
Tentu dengan koridor yg selaras tuntutan adat. Jadi silih berganti pada posisi yg berbeda.
Begitu juga dari segi tarian yang wajib dilakon orang Batak. Dalam tortor juga wajib tergambar boru menyembah tondong. Makanya disebut Mangalo alo tondong, bukan mangaloalo boru. Boru wajib menyembah tondong untuk memenuhi unsur adat dalihan na tolu itu. Siklus itu juga akan dirasakan pihak boru bila dia sebagai hula hula pada posisi yang berbeda . Jadi ada siklus yang saling tukar posisi pada orang yang berbeda. Jadi tidak ada unsur yang saling merendahkan di situ. Soal capek menghadapi hula hula seakan tidak adil, itu resiko bila keluarga kita berdekatan dengan keluarga hula hula. Kalau ingin hidup enak selaku orang Batak usahakan tinggal sangat jauh agar tidak disuruh suruh, tidak dieksploitasi, dan tidak adil.
Dalam tatanan adat Dalihan Na Tolu tidak ada unsur kaku di situ apalagi dengan sebutan eksploitasi. Sebab tujuan adat Batak untuk mengatur hubungan harmoni dan keseimbangan dengan siklus yang saling berganti.
Hal itu juga saya rasakan, karena ipar saya yang menikah dengan adik perempuanku tinggal di Amerika, tentu tidak mungkin saya suruh suruh jadi parlopes dalam pesta adat perkawinan, misalnya. Jadi memahami adat dan melakoninya harus selaras dengan tuntutan adat dan filosofi adat itu sendiri dan jangan digiring ke agama sebab tidak nyambung dan tidak sepadan. Sebab agama mengedukasi bahwa manusia sama derajadnya di hadapan Tuhan.
Bravo Adat Batak yang masih tetap eksis hingga saat ini... *****



Post A Comment:
0 comments: